Minggu, 05 Agustus 2012

Kadar hujan yang ku inginkan


Kadar hujan yang ku inginkan

Hanya hati yang tahu kemana ia akan beradu. Ia Berkata-kata dengan bahasa serat sutra.Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang-kadang engkau tak terusik. bahkan barangakali kau  tak sadar bahwa hati adalah radar. Ketika terkepit dalam transit yang tak pernah terbersit, pertemuan tanpa undangan, namun bukan kebetulan-karena hidup selalu dipandu oleh Sang Maha Penentu. Sehingga aku jadi tergugu, tak bisa melesat dari apa yang semestinya dekat.

Sinyal hati berdebar, menelisik berbagai sisi. Kala kejam temaram menggulung senja jadi gulita-tanpa tentakel (ups, itu gurita!), dengan imbalan rinai hujan. Aku jadi tertegun. Serasa terjadi reaksi kimia yang pernah ku rasa sebelumnya Cepat sekali. Dalam periode tak ku duga, kemudian dia mewujud dalam keutuhan yang tenang. “hai, kamu..!!! mesin waktu yang membawamu ternyata tidak soak. Buktinya kau balik juga” ujarku pada dia: sahabat dekat, Walau jadi tak hakikat karena dimensi asing yang tak ku tahu jaraknya. Lalu semua dibayarnya dengan senyum dan ujar,”orang bijak bilang, sahabat adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda. Kemana saja kau mengelana ia akan senantiasa bersua”. Begitulah ia; penuh makna. Sampai dirinya hanya serasa tiga semesta kata bagiku: dia sungguh unik.

Tiada sambutan, tiada kejutan, semua spontan. Padahal, harusnya ada konseptualisasi sesi bagi dia yang VVIP. Tak semestinya kita berjumpa dalam nada yang menggema-gema; ritme hujan terlalu lantang untuk ku tentang. Alhamdulillah, suasana jadi beda. Rinai hujan mengalun sedu sedan. Ini. Kadar hujan yang ku inginkan. Ritme andante yang tidak akan menjadi bombardir bagi dunia semut. Sungguh, luar biasa. Tak percaya?. Tower telekomunikasi jadi saksi. Juga beberapa kelelawar perkasa, bahwa semua ini menjadi latar dan alunan melankoli.

Tiada kata-kata; bahwa pertemuan awal perpisahan, karena aku tahu-juga percaya, pertemuan itu awal untuk menjadwal pertemuan-pertemuan berikutnya. Bahkan sampai detak nadi berhenti, hempas napas terakhir, dalam dunia yang bukan dunia, akan ada jadwal pertemuan berikutnya. Dia tahu-karena memang Maha Tahu-bahwa mengalir bersamanya ada rasa esensial.

sob, untuk jadwal selanjutnya, pasti ada tanda...

bagimu : The Jumper

Tidak ada komentar:

Posting Komentar